Recent Paintings

https://serunii.wordpress.com/2016/10/26/recent-paintings

Wisnuart’s Gallery on https://serunii.wordpress.com/2016/10/26/recent-paintings are lanuch and could be collected each pieces and a number of works. Wisnuart’s style at Artistic Painting Canvas has contain abstract of decorative painting, impressionis, naive painting style presents a quality artistic prestige value, infestations of art, private collections, etc. Our diverse collection on Artistic Painting Canvas of paintings using mixed media approach to art Contemporary art in raising local values of Indonesia. In addition it also developed a specifically religious christian art. Please do contact us for purchasing or ordering art work by email at ongkowe@yahoo.com. Studio is located at Jalan Tengiri VII No 23. Minomartani, Sleman, Yogyakarta. 55581. Indonesia.
Update Link Gallery: Artistic Painting Canvas

Advertisements

Pembukaan Galeri Seni Rupa Kristiani

Pembukaan Galeri Seni Rupa Kristiani:
Oase Segar di Tengah Kelesuan

Teks Wisnu Sasongko
Seni Rupa Kristen Indonesia (Seruni) akhirnya membuka galeri sendiri di Ruko Frankfurt Blok C No. 7, Gading Serpong, Tangerang (24/10/15). Terdiri dari tiga lantai, galeri memajang 35 karya seni rupa dua dimensi.
Hadir pada pembukaan sejumlah perupa dari Jakarta, Bandung, rohaniwan interdenominasi gereja, wartawan, pengunjung umum. Galeri diharapkan dapat menumbuhkan dan memperluas seni rupa kristen serta mempromosikan karya-karya seni lukis, grafis seni, patung, desain produk, dan merchandise-interior.
Galeri merupakan salah satu pendukung kesenian untuk mewadahi dan menghidupkan kegiatan berupa diskusi seni, membuat katalog, mencipta kuratorial bermutu, mengadakan pendataan terhadap perkembangan seni rupa, serta menumbuhkan pasar seni.

Image Seruni No 1_Suasana pemotongan cake 1 di tengah acara pembukaan pameran di Galeri Seruni_24 oct 2015

Pemotongan kue tanda pembukaan Galeri.

Mewarnai Keberagaman
Kesenian Kristen telah mencapai masa klasik dan tak lagi mengalami perkembangan dalam merespons persoalan zaman. Istilah seni rupa kristen yang dipakai di sini merupakan pinjaman dari kesenian Kristen pada era puncak keemasan. Seni rupa Kristen belum menjadi tesis kesenian atau belum mempunyai sejarah dalam tradisi seni modern di Indonesia.
Seni rupa tidak lagi menjadi bagian dalam suasana peribadatan gerejawi, namun membangkitkan refleksi universal yang dapat diapresiasi oleh semua orang. Ungkapan seni merupakan wujud spiritualitas manusia. Sintesa seni dan teologi dapat menjadi jalan pemulihan stigma bahwa seni mewakili sekularitas. Agama perlu mengadakan otokritik untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia modern sulit berkomitmen pada ritual-ritual. Mereka lebih menikmati ritual yang kreatif-reflektif dalam konser musik atau galeri-galeri seni.

Semangat menggemakan seni rupa Kristen adalah kesempatan dalam memperkaya ragam seni budaya bangsa dan membangun kehidupan harmonis dalam menyikapi sentimen keagamaan yang memunculkan resistensi fundamentalisme serta primordialisme. Jika agama melayani kerohanian melalui norma dan ajaran moral, maka seni melayani dengan refleksi nilai keindahan, tragedi, serta meramu kerumitan atas pengalaman hidup melalui imaji kreatif.
Melalui seni, seseorang dapat mengenali dirinya, mengadakan refleksi ke dalam jiwa, serta sebuah katarsis. Menghidupkan seni rupa Kristen bukan mengulang tradisi seni klasik semata atau menarasikan cerita kitab suci. Fase ikonografi berupa lambang dan figurasi seakan sulit ditinggalkan. Lihat saja simbol salib atau penggambaran wajah Yesus hampir tidak ada perubahan dari waktu ke waktu, baik secara struktural maupun isi. Di sinilah panggilan Seruni untuk menyuarakan nilai-nilai iman Kristen lewat seni rupa.

Rupa Yesus

Image Seruni No 3_Suasana pameran perdana 1 di lantai 2 di Galeri Seruni_24 oct 2015
Perupa Setiyoko Hadi melukiskan serial Wajah Yesus dalam pendekatan gaya impresionis dan optikal. Karyanya yang berjudul “60 Wajah” (2014) dibuat dengan media akrilik di atas kanvas ukuran 120x180cm. Karya ini seakan membawa kita berelasi dengan kesejarahan penggambaran Yesus dalam berbagai budaya. Karya ini seakan mempertanyakan seperti apa wajah historis Yesus? Mungkin kita akan kaget menyaksikan rupa-rupa penggambaran Yesus yang jauh dari imaji idealnya yaitu, berwajah Yahudi, hidung mancung, rambut gondrong, bercambang.
Refleksi teologis yang ingin dibangun lewat seni menunjukkan kekayaan imaji serta kreativitas manusia dalam menghayati iman kristen dalam konteks budaya zaman.
Mengapa Rupa Yesus begitu menarik untuk dilukiskan sejak era kekristenan kuno hingga kini? Rupa Yesus menampilkan kesatuan sifat Ilahi dan manusia melalui peristiwa hidup-Nya. Kumpulan orang beriman sebelum disebut kristen menguatkan lambang ikhtus (simbol ikan), dalam bahasa Yunani IXOYE bermakna Anak Allah Sang Penyelamat Dunia.

Kala itu, posisi seni rupa penting sebagai media untuk menyampaikan injil serta menyatukan umat percaya yang masih buta huruf karena kitab suci belum tersusun. Kristen perdana di Yunani-Romawi menggambarkan suasana penuh tantangan karena paganisme atau kepercayaan pada mitos serta keyakinan poilitesime, sangat kental. Pendekatan image Yesus haruslah merupakan sosok yang mudah dikenali, artefak menampilkan wajah Yesus berwibawa sekaligus angker seperti penggambaran dewa Zeus atau Apolo (matahari).
Diterimanya kekristenan menjadi agama resmi oleh kaisar Konstantinus I tahun 312, merupakan momentum akulturasi tradisi seni rupa dalam agama Kristen di Eropa. Seni rupa Kristen mencapai puncaknya di era seni klasik. Pengaruh seni klasik menyebar hampir seantero Eropa dan melahirkan sejumlah perupa realis hebat seperti Leonardo Da Vinci (1452-1519), Michelangelo (1475-1564), Masaccio (1401-1428), Raphael (1483-1520), Caravagio (1571-1610), Rembrandt (1606-1669). Renaisans mengangkat penggambaran manusia secara humanis, proporsional, plastis, human gestural.
Ketrampilan tinggi para perupa disertai perhitungan ilmu alam, logika, perspektif, anatomi dan teknologi fotografi. Klasikisme merepresentasikan suatu perayaan, pemujaan, pembentukan budaya (Kristen). Pada zaman modern, penggambaran Yesus lebih bersikap kritis, otokritik, formalis, ambigu, bahkan cenderung abstrak. Yesus boleh direfleksikan menurut konteks zaman dan didasarkan atas perwujudan kasih lewat perjumpaan dengan wajah-wajah Yesus di sekitar kita.

Imaji Injil

The Gospel Image N01_14_acrylic on canvas_80x100cm_b

Lukisan Wisnu Sasongko berjudul “The Gospel Image N0. 1” (2014) , menampilkan gaya impresif-dekoratif. Elemen rupa berupa garis, bentuk-bentuk deformatif, dan paduan warna monokromatik kekuningan menjadi kekuatan dalam menghadirkan suasana Injil kontekstual. Garis-garis membentuk obyek-obyek impresi sosok-sosok figuratif. Bentuk-bentuk figuratif-impresif yang dimaksud sebagai gaya pelukisan dengan menonjolkan kesan. Penekanan karya diletakkan atas keberanian membentuk suasana dan ekspresi spontanitas. Perupa ingin menampilkan tema Injil yang hidup sebagai peristiwa kehidupan.
Injil atau kabar baik tentang datangnya Kerajaan Allah di dunia dihayati menjadi pedoman hidup orang Kristen. Biasanya refleksi berita injil hanya dikotbahkan atau dituliskan. Kali ini dilukiskan di atas kanvas.
Dalam seni klasik, injil digambarkan dalam kisah-kisah teks naratif beserta penokohan rupa-rupa karakter. Penggambaran kelahiran Yesus, pembaptisan, peristiwa-peristiwa mukjizat, Yesus bertemu Musa dan Elia, Perjamuan Kudus, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke Surga.
Perupa menghayati Injil dengan penggambaran peristiwa sehari-hari. Peristiwa injil Kasih hadir dalam suasana kerakyatan, dapat ditemukan aktivitas orang boncengan, orang sedang memperbaiki rumah, tukang bakso, orang memberi makan ayam, sapi, anjing kampung, muda-mudi kasmaran, orang memainkan musik, anak-anak bermain, peminta-minta, orang bermeditasi di atas batu, perempuan dihukum karena berzinah, ada kematian dan orang-orang melayat.
Hidup Yesus Kristus dihadirkan di tengah-tengah suasana tersebut. Ada peristiwa perjamuan kudus, penyaliban Yesus, para wanita menangisi-Nya, peristiwa Yesus terangkat ke Surga. Ada impresi kepasrahan orang ketika pencobaan si ular dan orang-orang di sekitar-Nya bersimpuh, ada Yesus duduk di atas batu menggendong anak kecil sembari bercerita. Lukisan “Imaji Injil” merupakan suatu eksposisi imajinatif dalam menghayati kehadiran Allah di keseharian.
Secara khusus perupa melihat dua persoalan yang disintesakan, bahwa kekristenan hidup di alam Indonesia. Injil dihayati sebagai spirit hidup kristen yang disaksikan untuk merespons persoalan kemiskinan, keterbelakangan pikir, alienasi budaya, serta maraknya sentimen keagamaan. Gereja sebagai kumpulan orang-orang percaya yang dipanggil ke luar mewartakan injil untuk menyentuh kehidupan di sekitar kita.
Galeri Seruni menampilkan karya sebelas perupa Seruni yang telah berhasil “keluar” dari tradisi naratif. Mereka adalah Setiyoko Hadi, Setiyono, Tedianto Handoyo, Made Suparta, Ketut Lasia, Fredy Koritelu, Heru, Feri Agustiawan, Gunawan Wiradijaja, Stacy, Wisnu Sasongko.
Seruni juga menampilkan galeri karya seni rupa pada media web blog serta info kegiatan di http://www.seruni.wordpress.com.

Suasana pameran perdana 2 di lantai 2 di Galeri Seruni_24 oct 2015
Ruang pamer.

Opening Seruni Art Gallery (Pembukaan Galeri Seruni)

Opening Seruni Art Gallery

Suasana pemotongan cake 2 di tengah acara pembukaan pameran di Galeri Seruni_24 oct 2015

greetings,
Praise to The Lord, a container waiting for the present art exhibition finally answered with opening of Seruni gallery on October 24, 2015 held at the Frankfurt office Blok C No. 7 in Gading Serpong, Tangerang, Banten. Seruni (Chrysanthemum; call for a group of Indonesian Christian Artist) Christian faith-based team believes there is hope for the inclusion of God in expanding and growing Christian art. A gallery consisting of three floors and gallery space located on floors 1 and 2 with a capacity of some 35 works of art two-dimensional variant sizes. At the opening ceremony was attended by a number of Seruni artists from Jakarta, Bandung, Christian clergy in interdenominational church, shop owner, a number of invited guests and journalists. Mr Gunawan Wiradijaja as the founder and also manager in Seruni group. Seruni gallery assisted by a core team has the mission to promote the works of painting, graphic art, sculpture, product design, and merchandise-interior. We believe through God-given artistic creativity, enabled artists to dare to answer the challenge of creating interest to generate values-beauty-theological novelty in the expression of works of art.

Bahasa:

Pembukaan Galeri Seruni
Salam sejahtera,
Puji Syukur, sebuah penantian akan hadirnya wadah pameran seni rupa akhirnya terjawab dengan dibukannya galeri Seruni pada tanggal 24 Oktober 2015 bertempat di Ruko Frankfurt Blok C No. 7 di Gading Serpong, Tangerang, Banten. Seruni berani membuka sarana galeri seni rupa. Berlandaskan iman kristen tim Seruni percaya ada harapan akan penyertaan Tuhan dalam memperluas serta menumbuhkan seni rupa kristen. Sebuah galeri terdiri atas 3 lantai dan ruang galeri berada di lantai 1 dan 2 dengan kapasitas sejumlah 35 karya seni rupa dua dimensi dengan varian ukuran. Di acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah perupa Seruni (Seni Rupa Kristen Indonesia) dari Jakarta, Bandung, rohaniawan kristen dalam interdenominasi gereja, pemilik ruko, sejumlah tamu undangan, serta wartawan. Bapak Gunawan Wiradijaja sebagai pendiri kelompok Seruni sekaligus pengelola galeri Seruni dibantu oleh tim inti Seruni punya misi untuk mempromosikan karya-karya seni lukis, grafis seni, patung, desain produk, serta merchandise-interior. Kita percaya lewat kreativitas seni yang dianugerahkan Tuhan, perupa dimampukan untuk berani menjawab tantangan menciptakan minat pasar seni rupa serta dimampukan untuk membangkitkan nilai-nilai kebaruan-keindahan-teologis dalam ungkapan karya-karya seni rupa.

Ekspresi Iman Kristiani dalam Seni Rupa

Objek seni bukan sebatas apa yang kita lihat, tetapi ia mewakili sesuatu yang lebih luas, di luar itu ada satu bingkai yang membingkainya, yaitu wawasan pandang, kehendak, kesan dan respon seniman terhadap realita iman.
(kiri-kanan) Made Saputra, Wisnu Sasongko, Prof. Manlian A. Ronald, Setiyoko Hadi, Elya K. Wibowo S., dan Lusiana Idawati.

Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan (FDTP) UPH mengadakan seminar bertajuk Ekspresi Iman Kristiani dalam Seni Rupa, pada tanggal 12 Desember 2012 (12.12.12), yang berlangsung di Galeri Pelita, Gedung B, Kampus UPH, Karawaci. Seminar ini menghadirkan para perupa kristiani dari SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia) diantaranya Wisnu Sasongko S.Sn.,M.Hum. (Jogyakarta), Setoyoko Hadi S.Sn. (Jakarta) dan Made Suparta S.Sn. (Bali), serta pengamat seni dari akademisi UPH; Lusiana Idawati S.T.,M.M., M.T., dan Elya K. Wibowo S., M.A. (Art & Desaign.

Dalam seminar ini dibahas beberapa karya seni dari berbagai sudut pandang. Wisnu Sasongko,  membahas dari konteks sejarah humanisme dari jaman renaissance sampai era reformasi, dimana  pada era reformasi ekspresi humanistik meluap-luap, hingga di era reformasi mulai ditonjolkan simbol-simbol yang mengarah pada sang pencipta. Sampai saat ini ada misi dari lukisan dan pelukisnya, mengarah pada misi untuk memberitakan firman.

Sementara Setiyoko, membahas simbol-simbol penyangkalan diri dari ekspresi iman dalam karya seni rupa. Sementara Made Suparta mengupas kebebasan berekspresi dalam karya seni kristiani. Ketiga nara sumber Perupa membahas ekspresi iman pada lukisan karya masing-masing. Misalnya dalam lukisan ’Sang Guru’ karya Wisnu Sasongko, yang merupakan ekspresi dari pengalaman iman perupa. Karya lainnya yang juga dibahas adalah karya penyaliban Kristus sebagai eskpresi penyangkalan diri dan hasil introspeksi spiritual iman pelukis.

 

 

Elya K. Wibowo S., Pengamat seni dan akademisi UPH, melihat seni sebagai sesuatu yang luas dan seniman sebagai pribadi yang dipengaruhi oleh wawasan pandang kristiani. Elya berangkat dari Firman Tuhan dalam kitab Kolose 1: 15-16,

”Implikasi dari firman Tuhan ini adalah suatu totalitas dari semua realitas, dimana tidak ada satupun aspek dalam kehidupan yg tidak berhubungan dengan iman. Dengan kata lain seni tidak dapat dipisahkan dari iman,” kata Elya.

Objek seni bukan sebatas apa yang kita lihat, tetapi ia mewakili sesuatu yang lebih luas, di luar itu ada satu bingkai yang membingkainya, yaitu wawasan pandang, kehendak, kesan dan respon seniman terhadap realita iman.

Menurut Elya seni Kristiani dalam sejarah terkadang tidak diberikan tempat untuk dihampiri dalam kerangka yang sesuai, dimana orang melihat karya seni dari kaca mata berbagai disiplin ilmu dan menghakimi karya seni, tanpa mengikutsertakan bahwa seni itu sendiri punya pendekatannya sendiri. Sehingga sering terjadi kesalahpahaman.

Bila dilihat dari potensi seni sebagai alat kontemplasi, menurut Elya, di kalangan protestan ada ketakutan dan sering dinilai negatif. Sehingga seni hanya dilihat sebagai alat untuk mengakumulasikan ajaran semata. Hal ini mengakibatkan cara pandang yang sempit.

Dikalang gereja, seni juga diperlakukan sebagai perpanjangan dogma dan bukan suatu sakramental. Sehingga ketika seseorang ingin mengekspresikan keindahan realita sesuai dengan imannya lewat karya seni, dianggap bukan suatu ibadah.

Dengan demikian wawasan pandang sangat penting dalam menghasilkan maupun mengapresiasi karya seni. Jadi menurut Elya, pasti ada keberpihakan-keberpihakan dalam menghasilkan suatu karya maupun menilai suatu karya seni, termasuk dari sisi seniman itu sendiri.

Sesi terakhir, Lusiana Idawati, menyimpulkan paparan dari para seniman, mengatakan bahwa dalam karya seni the author is not death but the author is live.  Senada dengan pembicara sebelumnya, ia sependapat bahwa ada  hubungan antara Tuhan dan seni, dan bagaimana seni merefleksikan iman. Ia mengacu dari definisi iman, Ibrani 11:1, dimana dalam konteks tersebut mengandung unsur-unsur confidence, assurance,  dan substance, sedangkan pada  bagian kedua mengandung unsur-unsur, conviction, evidence dan proof.  Dalam karya seni unsur-unsur tersebut diekspresikan.

Ia juga mengupas makna seni dan keindahan. Dimana keindahan merupakan jembatan antara kebaikan dan kebenaran, yang mengacu pada satu substansi yaitu kesempurnaan yang dalam iman Kristiani mengacu pada Allah itu sendiri.

Menurut Dekan FDTP, Prof. Manlian A. Ronald, seminar ini bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan iman kristiani, dan untuk belajar ekspresi desain yg sesuai dengan iman yang takut akan Allah. Ia berharap melalui seminar ini dapat muncul gagasan dan pandangan yang memperkaya dunia senirupa Indonesia.

Di akhir sesi, dilakukan penandatanganan kerjasama antara jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH dengan SERUNI (Seni Rupa Kristen Indonesia). Kerjasama ini mencakup pembentukan komunitas seni rupa Kristiani, mengadakan seminar seni, dan mengundang para perupa SERUNI untuk mengajar di kelas. (rh)

Penandatanganan kerjasama UPH (right) dan SERUNI (left) Pameran lukisan Seni Rupa Kristen Indonesia, SERUNI, di Galeri Pelita, Gedung B, UPH